Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format
Tampilkan postingan dengan label Social life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Social life. Tampilkan semua postingan

"Gila" Kata Siapa?

Hampir setiap sore kota Bogor hujan, mungkin itulah banyak orang menyebutnya sebagai kota hujan. Sore itu sekitar pukul 17.00 sepulang dari kampus, saya mampir di sebuah toko buah. Saat sedang memperhatikan dan memilih buah yang akan dibeli, tiba-tiba perhatian saya beralih kepada seorang perempuan (kira-kira berumur 40 tahunan). Saya pikir dia akan membeli buah juga, dengan gayanya memegang beberapa buah kiwi. Namun, seorang pelayan dengan nama seperti mengusir ayam (hus...hus...hus) dan mendekati perempuan itu kemudian melarang untuk menyentuh buah-buah tersebut. Akhirnya perempuan itu pergi tanpa membeli dan membawa satu buahpun.

Seperti halnya saya yang mampir dan membeli buah, itu karena ingin memakannya. Perempuan itu tadi pasti punya harapan yang sama, yaitu ingin makan buah. Sebenarnya apa yang membedakan saya dan perempuan itu? mungkin kah gaya rambut? tentu berbeda, dia mempunyai potongan rambut pendek seperti laki-laki sementara saya memakai jilbab. Mungkinkah pakaian kami berbeda? tentuntu berbeda, saya memakai kemaja lengan panjang dan celana dasar panjang, sementara dia memakai baju kaos oblong dan celana hawai dibawah lutut. Hal yang berbeda lainnya adalah dimulutnya ada sebatang rokok yang belum dinyalakan, sementara saya tidak merokok.

Sebenarnya tidak ada yang aneh dari penampilan perempuan itu, seperti kebanyakan perempuan lainnya. Ada satu hal yang baru saya tahu bahwa perempuan itu "gila". pelayan tadi mengusirnya karena khawatir mengganggu.

Dua hari berlalu...

Pagi hari ketika saya akan berangkat ke kampus, melewati jalan biasanyanya (Jl. Raya Dramaga). Dari kejauhan saya melihat perempuan yang pernah saya lihat di toko buah dua hari yang lalu. Yah, saya mengenal raut wajahnya. Ciri khas yang sama yaitu sebatang rokong yang belum dihidupkan ada di antara bibirnya. Sembari terus berjalan, terus saya perhatikan olah tingkahnya. Dia hanya duduk di sudut halaman toko yang belum dibuka oleh pemiliknya. Dalam hati saya berkata "mungkin benar perempuan itu gila".

Tiba-tiba dari arah yang sama di seberang sana ada seorang laki-laki yang berjalan mendekati perempuan tersebut. Laki-laki menggunakan baju kaos oblong warna hitam lusuh, dan beberapa bagiannya sudah sobek. Begitupun dengan celana panjang coklat yang dia gunakan, kanan-kirinya cobek dan kotor. Rambutnya yang panjang terikat menggumpal. Laki-laki itu menjinjing 3 pelastik hitam yang lumayan besar yang tidak tahu isinya apa. Kakinya tanpa alas, terus melangkah mendekati perempuan tadi.

Sementara saya berjalan semakin dekat dan dekat dengan mereka namun kami berseberangan. Saya melihat perempuan itu menegur laki-laki tersebut, namun laki-laki itu hanya diam. Kemudian perempuan itu menegur lagi, namun tetap laki-laki itu diam. Perempuan itu lalu mengambil sebatang rokok dari mulutnya kemudain menjulurkan (memberikan) kepada laki-laki itu.

Dari seberang jalan saya berdiri memperhatikan mereka dan bertanya dalam hati (Apakah mereka saling kenal?, sepertinya tidak). Sayang sekali saya tidak pegang kamera, dan hand phone pun tidak bisa mendokumentasikan kejadian itu. Perempuan yang masih terduduk itu memberikan rokoknya, sementara laki-laki itu mendekat dan menunduk ke arah perempuan itu. Wah saya ingin tahu sebenarnya apa yang sedang meraka ucapkan/kamunikasikan.

Namun karena saya harus segara sampai di kampus, saya tinggalkan pemandangan itu. Sepanjang jalan saya masih saja memikirkan olah tingkah mereka berdua yang membuat saya penasaran. Sampai-sampai saya harus mengakui bahwa mereka "tidak gila" sebagaimana yang dilabelkan oleh orang-orang yang melihatnya. Yah mereka tidakgila, mereka bisa berkomunikasi dengan baik. Mereka mempunyai hati yang baik antara satu dan lainnya.

Seandainya saya seorang perempuan yang merokok, dan tak seorangpun yang mengatakan/melabelkan kepada saya "gila". Apakah saya akan memberikan sebatang rokok yang saya punya kepada teman saya? belum tentu. Sementara perempuan itu, yang dianggap gila namun ia mau memberikan sebatang rokoknya kepada laki-laki yang dianggap gila.

Oh tidak, ini adalah sebuah kesalahan. Sungguh menghawatirkan, jangan-jangan orang sehat yang mengatakan orang lain gila itu adalah dia yang sedang gila. Kesehatan, kebersihan, kerapihan, kelincahan berbahasa, kecerdikan berpikir justru menganggap orang yang kumuh, kotor, dekil, pakai baju sobek sana-sobek sini, rambut panjang meringkal tak terurus, bau, adalah gila . Dalam penampilan yang gila, mereka mempunyai hati yang sehat.

Jika mereka memilih jalan sebagai rumah mereka, berjalan sepanjang hari. Tidur di jalan, meminta makanan dari warung ke warung, atau mengais sampah mencari makan. Itu semua bukan berarti mereka gila. Ternyata mereka memiliki hati yang tulus, terhadap sesama mereka. Mereka mampu berkomunikasi dua arah, layaknya kita.

Siapkah yang pertama kali melabelkan "gila" kepada orang-orang gila?. Saya jadi teringat kepada seorang perempuan gila di sekitar pasar Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara. Semenjak saya SD sampai sekarang perempuan itu terkenal dengan sebuatan nama "Minul Gila". Kesehariannya hanya duduk di pinggiran jalan, dengan menggunakan sarung dan kaos oblong yang lusuh dan kotor. Rambutnya yang panjang dan tebal nampak seperti sanggul karena kotor tidak pernah dicuci. Namun ironisnya, si Minul juga hamil. Siapakah orang yang menghamili Minul? ternyata dia adalah orang sehat fisiknya tapi lebih-lebih gila jiwanya. Masih banyak lagi orang-orang sehat di dunia ini yang memiliki hati dan jiwa yang gila, namun sayangnya dia tidak menyadari kegilaanya.

Dramaga Bogor, 12:28






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jangan Putus Sekolah ya Sayang

Dialah seorang anak laki-laki yang berusia sekitar 7 tahun harus putus sekolah. Muhammad Riski Ramadan adalah anak dari seorang buruh tani bernama Mayunis dan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Sudah sering kali mendengar berita anak-anak putus sekolah lantaran ketidakmampuan orang tuanya membiayayi sekolah anaknya. Apalagi di daerah-daerah yang mayoritas pendapatan hanya sebagai buruh tani.

Ada yang lain dari kebanyakan kasus putus sekolah yag dialami oleh Riski. Berita yang diterbitkan oleh Oke Zone ini (lengkapnya klik disini), menggelitik hati saya untuk menyampaikan sesuatu dalam tulisan ini. Dengan hasil yang pas-pasan sebenarnya pak Mayunis masih mampu menyekolahkan anaknya, setidaknya sampai selesai Sekolah SD. Namun yang menjadi persoalan adalah Riski putus sekolah lantaran karena tingkat kecerdasannya yang melebihi teman-teman seusianya. Bahkan bisa dikatakan mengalahkan usia 20 tahun kebanyakan anak Indonesia. Riski sudah menguasai beberapa bahasa asing (Inggris, India, Mandarin dan Malaysia) diusia belianya. Maaf, saya saja tidak secerdas Riski.

Kelebihan yang dimiliki Riski justru menjauhkan dirinya dari dunia kanak-kanaknya. Sebagaimana kita ketahui usia Sekolah Dasar adalah masa dimana anak-anak memupuk kecerdasan sosialnya melalui interaksi dan bersosialisasi dengan teman-teman sebaya dan menjalin komunikasi yang sehat kepada usia yang lebih tua darinya yaitu guru-guru di lingkungan sekolah. Namun Riski hanya 6 bulan sekolah di SD Negeri Cangkiang. Karena karakter Riski yang tidak mau belajar dengan sistem yang mengulang-ngulang, sehingga membuat dia tidak nyaman dikelas. Keadaan ini dinilai mengganggu proses belajar mengajar siswa-siswi yang lain oleh gurunya. Sehingga Riski dikeluarkan dari sekolahnya dan disarankan untuk sekolah khusus oleh gurunya.


Tidak ada yang salah dengan tindakan pihak sekolah tersebut, karena itu merupakan tindakan jangka pendek dan bersifat makro demi siswa-siswi yang lain. Menurut saya, seandainya anak-anak di tanah air ini seperti Riski justru akan sangat membantu kerja-kerja para guru SD. Tidak lagi kita temui guru berteriak-teriak memanggil muridnya yang malas belajar dan justru hanya ingin bermain saja. Tidak ada lagi guru yang kesal karena muridnya belum memahami apa yang disampaikan, padahal sudah berulang kali. Dan tidak akan ada lagi kasus guru dilaporkan ke kepolisian oleh orangtua muridnya dikarenakan mencubit muridnya yang nakal (kasus di Kabupaten Waykanan-Lampung, lihat disini). Ditingkat yang lebih makro, para perencana pendidikan Indonesia ini tidak perlu lagi mengganti kurikulum disetiap musimnya.

Riski adalah salah satu mutiara yang ada di Indonesia, namun kenapa karena kelangkaannya justru dianggap sebagai kendala bagi mayoritas?. Ada baiknya sebagai pihak sekolah guru dan kepala sekolah yang lebih dekat dengan Riski (bersama orang tua tentunya) mengkomunikasikan keadaan ini kepada Dinas Pendidikan setempat untuk memberikan alternatif belajar di sekolah bagi seorang Riski. Bersamaan dengan itu pula, komunikasi dapat ditingkatkan kepada stakeholder pendidikan yang lebih luas (provinsi atau bahkan negara) agar kasus serupa yang terulang di waktu dan tempat yang berbeda menjadi perhatian yang bijak.

Jangan katakan bahwa ini sulit karena sistem pendidikan kita memang tidak mengatur kelangkaan kecerdasan seperti yang dialami Riski !. Dan jangan katakan pula tidak ada alokasi dana untuk membuat seorang generasi bangsa seperti Riski untuk dapat terus belajar!.

Sudah selayaknya Riski dan mutiara bangsa lainnya mendapat haknya dengan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Jika memang dibutuhkan seorang ahli pendidikan khusus untuk perkembangan akademik Riski, mengapa tidak? Negara bisa membayar ahli pendidikan tersebut. Namun menjadi catatan adalah kecerdasan sosial Riski pun adalah suatu hal penting, yaitu lingkungan pertemanannya.  Agar Riski dapat menjadi pemimpin yang tidak hanya cerdas dalam ilmu pengetahuan namun bijak terhadap lingkungan disekitarnya. (Asnani)

Dramaga, Bogor 08-11-2013


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Catatan Kongres XI Forum Wacana IPB 2013








Subuah SMS masuk dari seorang teman yang meminta tolong untuk mengecek surat permohonan pengrimiman delegasi Program Studi Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) di ruang sekretariat PWD. Kemudian saya balas SMS itu bahwa saya akan mengeceknya besok. Namun tak berapa lama kemudian saya langsung saja mengirim SMS kepada pengelola prodi prihal surat tersebut, ternyata surat sudah masuk pada tanggal 15 Oktober 2013.

Keesokannya saya mampir ke prodi dan  membaca surat tersebut beserta lampiran2nya (Surat Delegasi Kongres (Form A), Perubahan surat delegasi kongres (Form B), jadwal acara, Formulir bakal calon ketua umum Forum Wacana IPB, daftar peserta penuh kongres XI Forum Mahasiswa Pascasarjana IPB 2013 dan beberapa dokumen Rancangan Ketetapan). Pengelola prodi mengatakan bahwa: "siapa saja yang akan menjadi delegasi diserahkan sepenuhnya kepada mahasiswa". Oleh karena itu saya inisiatif untuk membawa surat itu beserta dokumennya untuk saya umumkan kepada teman2 baik S2 maupun S3 (kebetulan saya akan bertemu mereka pada perkuliahan Makro Ekonomi).

Dari 5 Kuota yang didapat oleh PWD, saya hanya berhasil menjaring 3 orang (termasuk saya) untuk menjadi peserta delegasi tersebut. Sementara temn-teman yang lain tidak tertarik untuk mengikutinya dengan berbagai alasan, diantaranya: menjelang UTS, khawatir  kedepannya akan diminta jadi kordinator acara ini dan itu. Baiklah, itu adalah hak mereka dan saya harus bersyukur setidaknya ada teman (Idealisme masih tinggi nich). Selanjutnya saya langsung meminta tanda tangan dari ketua prodi sebelum diserahkan kepada panitia. Prodi menanyakan mengapa hanya tiga orang? coba hubungi kakak tingkat 2012 !. Oleh staf disana saya diberikan no hp salah seorang kakak tingkat, kemudian saya hubungi berkaitan dengan delegasi tersebut. Ternyata beliaupun tidak tertarik. Tidak lupa saya berpesan bahwa jika ada teman-teman yang lain ingin ikuti, masih ada kesempatan perubahan delegasi sampai tanggal 25 Oktober. Beliau itu cuma bilang "terimakasih".

Hari itu saya putuskan untuk memasuki nama 3 orang tersebut untuk mengikuti kongres pada tanggal 26 Oktober karena hari itu (24 Okt) adalah hari terakhir pendaftaran. *Masih mengikuti prosedur yang berlaku#

Acara kongres XI ini dilaksanakan di Gd. Sylva Pertamina Fakultas Kehutanan dimulai pukul 08.00-18.00 sesuai jadwal yang terlampir. Dengan pakaian yang rapi, dan bersepatu saya dengan senang hati menuju lokasi dan tiba disana sebelum jam 08.00. Kemudian saya registrasi  jam 08.00 kemudian memilih tempat duduk yang nyaman. Panitia nampak siap dengan tugasnya masing-masing, namun yang menjadi pertanyaan saya? mengapa diawal ini panitia di dominasi oleh kaum adam? hanya ada 2 panitia perempuan yang terlihat (notulen dan yang akan memimpin menyanyi Indonesia Raya). Baiklah, mungkin yang lain belum datang.

Jujur baru kali ini saya mengikuti acara yang benar-benar on time acara dimulai pukul 09.00 (dalam hati mulai simpati dengan cara kerja para panitia). Semua kursi yang tersedia penuh, namun saya lupa jelasnya berapa jumlah peserta yang hadir. Pada sambutan ketua umum bahwa kongres ini adalah kongres terbesar sepanjang sejarah. Artinya jumlah pesertanya sangat banyak. Tentu saja karena mahasiswa baru IPB pada tahun ini meningkat drastis, jadi ini adalah sebuah kewajaran dan bukan sebuah prestasi.

Masuklah pada sesi Sidang Pendahuluan yang membahas jadwal acara, tatatertib kongress, dan pemilihan pesidium sidang yang di fasilitasi oleh SC. Tidak ada masalah dengan jadwal dan forum sepakat jam 18.00 selesai. Sidang mulai menunjukkan reaksi ketika membahas tata tertib sidang perihal peserta kongres. Peserta kongres terdiri dari peserta penuh dan peserta peninjau. Peserta penuh merupakan perwakilan prodi (termasuk saya nich) yang memiliki hak bicara dan suara. Sementara peserta peninjau adalah utusan dari organisasi pascasarjana lingkup IPB dan Forum Wacana Daerah, merka hanya memiliki hak bicara namun tidak memiliki hak suara.

Sidang mulai panas ketika ada beberapa orang di luar ruangan datang membawa surat delegasi dari prodi, namun oleh panitia tidak diperbolehkan karena telah melewati batas waktu yang telah ditetapkan. Alasan para teman-teman yang baru datang ini adalah karena sebelumnya mereka tidak mengetahui acara tersebut dan tidak sampainya undangan Forum Wacana ke prodi mereka. Wahhh beberapa peserta kongres mulai mencari-cari kesalahan panitia nich, dengan meminta menunjukkan surat/bukti bahwa panitia telah menyampaikan surat ke prodi.

Saya masih menjadi pengamat yang setia, suara-suara keras mulai terdengar sahut menyahut. Beberapa tangan yang gemetar saling tunjuk menunjuk dan beberapa orang mulai tidak lagi duduk manis ditempatnya bahkan sudah berjalan di koridor ruangan sambil mengayun ayunkan microphone. Bahkan ada juga peserta perempuan di belakang saya berkata"pimpinan sidang!, pimpinan sidang!" berulang-ulang. Saya tahu mereka meminta waktu untuk berbicara. Namun suara mereka tidak didengar lagi-lagi yang punya kesempatan bisacara adalah peserta laki-laki. *Hati saya mulai gelisah nich#

Saya hanya mencatat komentar saya dalam hati bahwa kongres ini level pascasarjana loh, di dalamnya ada calon master dan doctor. Saya melihat panitia sudah bekerja maksimal mengapa teman-teman yang baru datang begitu manja sehingga keterlambatan mereka harus dimaklumi dan masih saja memaksa untuk masuk mengikuti kongres. Mengapa pula ada beberapa teman di dalam forum harus sebegitu kerasnya memperjuangkan mereka masuk dengan mengabaikan substansi dari kongres tersebut?. Sampai-sampai SK secagai SCpun harus dipertanyakan dan mengatakan bahwa SK itu sakral? yah mungkin itulah wujud kekritisan mereka. Sementara peserta perempuan hanya bisa berkomentar dengan teman disampingnya menambah hiruk pikuk ruangan tersebut (termasuk saya).

Ada satu perhatian saya saat itu yaitu dua orang notulensi (laki-laki dan perempuan) justru sibuk sendiri ngobrol, mereka tidak mencatat sanggahan, saran, informasi, atau yang lainnya. Melihat itu saya merasa kasihan dengan teman-teman yang sudah saling otot-ototkan memperjuangkan pendapatnya. Olehkarena itu saya berdiri dan mengacungkan tangan mohon bicara kepada pimpinan sidang (Lagi-lagi gagal). Lalu saya inisiatif menghampiri notulen itu dan mengatakan bahwa: "perubahan redaksional yang tadi belum dicatat, ini adalah dokumentasi yang sangat penting!". Mereka hanya bilang: "sudah mba!". Tapi kenyataanya di slide tidak ada perubahan apa-apa. (Bagaimana ini)

Ketika Ishoma tiba, panitia mengumumkan silahkan untuk mengambil makan siang dengan menunjukkan name tag. Kemudian saya bercanda dengan teman-teman disekitar saya: "name tag ini yang sakral, karena tanpa ini kita tidak dapat makan siang. Kalau SK SC tidak begitu sakral!...serentak teman-teman tertawa dan kami menikmati makan siang itu bersama.

Selanjutnya ketika pemilihan pimpinan sidang, terpilihlah satu orang keterwakilan perempuan. Sidang Pleno 1 dengan pembahasan laporan pengurus Forum WacanaIPB periode 2012/2013 yang disampaikan oleh Ketua Umum Syamsu Rizal, S.Hut, SMi. Saya sendiri memberikan apresiasi kepada pengurus ini karena dalam waktu setahun bisa merealisasikan 32 kegiatan. Sebelumnya laporan tertulis saya terima ketika registrasi, jadi sebelum ketua umum mebacarakn laporan tersebut, saya sudah membaca semuanya. Catatan kecil saya adalah: standar laporan yang menjelaskan nama kegiatan, tema, tempat, waktu, tujuan, hasil yang dicapai, jumlah peserta yang mengikuti, sumber dana dan kegunaannya belum lengkap. Ternyata yang catatan kecil ini ada juga yang mempertanyakan kepada ketua umum namun dengan cara yang berbeda "ini seperti laran anak SD, laporan yang sangat konyol sekali!". Saya cuma bilang: Wow keren mahasiswa pascasarjana loh ngomongnya begitu. Sampai-sampai ketua umum menanggapi: "Sebenarnya saya tidak tahu laporan yang konyol itu seperti apa".

Setiap manusia, organisasi, episode pastilah punya kekurangan dan kelebihannya. Kita sebagai teman patutlah kita memberi apresiasi walapun kita harus juga memberikan refleksi mana yang sudah baik dan mana yang perlu diperbaiki. Saya pikir tidak perlu sampai berteriak-teriak mengeluarkan emosi sebegitunya. Apakah Mubes/Kongres itu tidak sempurna jika tidak ada nuansa sarkasme dan anarkisme nya???
Sampailah pada Sidang pleno ke 2 pembahasan AD/ART Forum Wacana IPB periode 2013-2014 dan rekomendasi organisasi Forum Wacana IPB. Semua berjalan dengan lancar walaupun terkadang muncul emosi-emosi yang tidak terkendali, biasanya berakhir pada komentar sang wasit persidangan yaitu ketua umum. Namun pada tahap ini ada satu kejadian yang membuat semua forum emosi, sampai pimpinan sidang akan diturunkan. Tanda-tanda ini sudah saya bisikkan kepada teman disamping saya:"pimpinan sidang yang perempuan hanya jadi pajangan". Karena semenjak dia ditetapkan menjadi pimpinan sidang belum pernah terdengar suaranya padahal sidang pleno 2 hampir selesai dan waktu menunjukkan sudah jam 17.00. Benar saja, saya yang duduk di depan dengan jelas melihat pimpinan sidang yang perempuan menggendong tasnya yang berwarna hitam keluar melalui tirai belakang panggung. Saat ini masih hangatnya membahas ART. Kepergian pimpinan sidang perempuan itu tanpa ada persetujuan forum, sepertinya tak banyak yang tahu kepergian pimpinan sidang itu atau mereka belum sadar ya kalau pimpinan sidangnya hilang satu.
Seseorang peserta laki-laki dibelakang sadar dan menanyakan "mengapa pimpinan sidang perempuan tidak pernah bertugas?, siapa tahu ruangan ini lebih fresh jika perempuan yang memimpin sidang. Dimanakah pimpinan sidang satunya?"......hahahaha keadaan lebih heboh dan sidang di skor 2x10 menit karena dua pimpinan sidang laki-laki berdiskusi dan berusaha menghadirkan pimpinan sidang yang perempuan. setelah itu skor dicabut, dan belum juga menghadirkan pimpinan sidang 3 (perempuan), sementara pimpinan sidang 1 dan 2 (laki-laki) bergaya tegas dengan melanjutkan persidangan. Keanehan mulai terbaca, karena suara peserta forum pecah antara sebagian besar peserta penuh dan peserta peninjau. Peserta penuh mengharapkan sidang dilanjutkan dengan alasan waktu dan peserta peninjau tidak bisa melanjutkan sebelum menghadirkan pimpinan sidang 3. Saya sebagai peserta penuh setuju dengan peninjau. Teman disamping saya berkata "pimpinan sidang 1 dan 2 adalah titipan, saya menyesal tadi kenapa mengundurkan diri menjadi pimpinan sidang kalau ternyata begini". Wah kebenaran titip menitip ini tidak bisa dibuktikan ya teman. Tapi menurut logika saya, memang ada yang aneh kenapa pimpinan sidang 3 tidak pernah diberikan kesempatan memimpin sidang. Sampai Pimpinan sidang 3 pun sudah hadir, masih saja pimpinan sidang 1 dan 2 memaksa melanjutkan persidangan. Padahal peserta forum meminta klarifikasi mengapa beliau meninggalkan tempat saat sidang berlangsung. Ada yang benar-benar lucu ketika pimpinan sidang ingin klarifikasi dia meminta palu sidang diberikan kepadanya terlebih dahulu. Serentak peserta forum ada yang tertawa, mengejek dan ada pula yang menjelaskan bahwa untuk sekedar klarifikasi tidak perlu serah terima palu. Terdengar disekitar saya "nanti mbanya dibelikan palu dech".

Akhirnya pimpinan sidang 3 klarifikasi, dia meninggalkan persidangan karena beberapa kali dia meminta agar dia ditugaskan menjadi pimpinan sidang namun pimpinan sidang 1 tidak mendengarkan permintaannya. Dia merasa tidak mempunyai peran apa-apa dipanggung persidangan, padahal dia dipilih secara aklamasi sebagai pimpinan sidang perwakilan perempuan. Dengan emosi dan suara menahan tangis dan raut wajah yang merah marah dia menjelaskan "saya minta maaf semoga dengan tindakan saya ini menjadi pencerahan kita semua bahwa perempuan harus dilibatkan". Wahhhhh saya salut dengan pimpinan sidang 3 ini, dia berani mengambil tindakan yang berpengaruh demi prinsip. Bayangkan saja dengan ulah pimpinan sidang 3 ini waktu persidangan molor 3 jam. Namun bagi saya it's ok karena kejadian ini adalah tamparan bagi para peserta kongres level pascasarjana bahwa kesetaraan gender sangat mudah dalam teori dan begitu berat dan aplikasinya. Apakah pimpinan sidang 1 dan 2 akan merasa jatuh harga dirinya ketika pimpinan sidang 3 yang memimpin?

Keadaan kembali mematikan dengan cepat sel-sel dalam tubuh ketika gelombang emosi peserta kongres datang seperti tsunami. Setelah pimpinan sidang 3 sudah klarifikasi persidangan dilanjutkan, namun beberapa kali peserta kongres meminta palu persidangan diserahkan kepada pimpinan sidang 3. Namun permintaan itu tidak diindahkan oleh pimpinan sidang 1 dan 2. Sampai orang-orang yang gerah dengan pimpinan sidang 1 maju kearah panggung persidangan dan akan menurunkan secara paksa pimpinan sidang 1, namun saat itu juga orang-rang yang pro kepada pimpinan sidang 1 maju menghalangi sampai terjadi dorong mendorong dan relai melerai. Lagi-lagi diakhiri dengan komentar wasit kongres yaitu ketua umum.

Setelah beberapa peserta memberikan pendapat tentang pergantian palu sidang, dan pimpinan sidang 1 dan 2 merasa terdesa maka palu persidangan diserahkan kepada pimpinan sidang 3. Setelah saya dengarkan cara pimpinan sidang 3 memimpin sidang, ternyata perempuan juga bisa tidak kalah dengan laki-laki. Begitu tidak mudahnya menjatuhkan egoisme seorang laki-laki demi sebuah palu kepada perempuan padahal secara aturan sudah jelas bahwa perempuan tersebut hanya meminta haknya.

Sampai pukul 24.00 saya masih bertahan, berharap saya bisa memberikan hak suara saya kepada salah satu calon ketua umum Forum Wacana 2013/2014. Yahhhh inilah upaya saya menjadi peserta kongres yang baik, berharap mendapat sebuah pembelajaran untuk Indonesia mendatang. Padahal seperti yang saya sampaikan didepan bahwa kongres ini hanya sampai pukul 18.00. Demi sebuah kesempurnaan dan keidealan sebuah kongres seluruh peserta sepakat melanjutkan kongres walaupun konsekuensinya tidak mendapatkan malam ataupun snack tambahan. Wahhh saya bangga dengan teman-teman peserta kongres ini.

Namun ada sebuah kejadian yang telah menggilas jiwa-jiwa para peserta kongres yang mengharapkan keidealan dan kesempurnaan kongres tadi. Apakah itu??

Ketika memasuki tahap pemilihan calon ketua umum, diumumkan ada 6 orang yang telah terjaring sebagai bakal calon. Keenamnya dipanggil dan dipersilahkan duduk di koridor depan ruang kongres di kursi yang telah disediakan panitia. Namun sekitar 20 menit dengan berbagai dinamika di dalamnya, peserta harus menunggu 3 orang bakal calon yang belum hadir di ruangan tersebut. Dalam hati saya mencatat: pertama ketiga bakal calon yang belum hadir tidak mempunyai niat yang kuat, jadi tidak lebih baik dipilih. kedua mereka sebagai calon ketua umum yang jika terpilih akan melayani ribuan mahasiswa pascasarjana, jika belum terpilih saja, kita sudah harus menunggu mereka. ketiga saya meyakinkan hati bahwa satu suara suara saya akan saya berikan kepada mereka yang memang sudah siap di depan.

Setelah ditunggu beberapa lama semua calon muncul dan menyampaikan visi misi mereka di podium. Ketika panitia menyiapkan alur dan teknis pemungutan suara, tiba-tiba 4 orang calon mengundurkan diri dan menyerahkan suara mereka kepada salah satu calon yang mereka tunjuk. Hal ini otomatis penggiringan suara para pendukung calon yang mengundurkan diri kepada calon yang mereka tunjuk.

How can it be???
Untuk para pemain di dalam kongres ini saya ingin menyampaikan bahwa apakah kalian tidak memperhitungkan social cost yang sudah kami (peserta kongres) keluarkan demi kongres ini. Ada ibu-ibu yang meninggalkan empat orang anaknya, ada ibu hamil 7 bulan, ada puluhan orang yang meniadakan tidur siang di hari Sabtu, ada puluhan orang yang menunda tidur malamnya, ada ratusan mahasiswa yang mengalihkan waktunya selama 16 jam dari belajar menjelang UTS, ada ratusan manusia menunda makan malamnya sampai jam 00.00  SEMUA DEMI KESEMPURNAAN KONGRES.


Kalian para calon ketua umum yang mengundurkan diri setelah visi misi, mengapa kompak melakukan hal yang sama? mengapa tidak mengundurkan diri ketika dipodium? mengapa kami harus menunggu kehadiran kalian dengan dinamika emosi ternyata kalian mengundurkan diri? mengapa kalian tidak terlihat gagah dan berwibawa dengan menyerahkan suara kalian kepada 2 orang yang tertinggal? kenapa permainan kalian begitu mudah sekali ditebak dan merugikan banyak orang?

Oleh karena itu saya menjadi peserta penuh yang pertama kali menyatakan GOLPUT di atas panggung persidangan. Dengan fisik lelah dan hati yang begitu perih saya tinggalkan ruang kongress level pascasarjana IPB pada pertengahan malam (pukul 00.00). Dengan tenaga yang tersisa saya langkahkan kaki di remang-remang kampus yang katanya 5 besar di Indonesia ini. Diperjalanan ke kostan yang sekitar 500 meter, saya bertemu 3 kelompok pemuda yang duduk berkumpul di luar pagar kampus dengan dihiasi botol minuman dan cantiknya hembusan asap rokok, disalah satu kelompok itu ada seorang perempuan berambut panjang menggunakan hotpans hitam dan tanktop putih.

Sepuluh (10) tahun kedepan, yakinlah generasi dalam kongres ini yang akan memimpin Indonesia. Dan malam ini saya sudah dapat melihat miniatur dinamika politik yang akan terjadi nanti. Sukarno, seandainya engkau masih hidup saya akan berusaha datang padamu untuk menyampaikan tulisan ini, dan inilah potret pemuda generasi di bawah mu. Asnani

Dramaga, Bogor 27 Oktober 2013

note: tulisan ini tidak diberikan photo karena keterbatasan gadget saya



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Korupsi, Pemiskinan Simiskin




Kelangkaan
Beberapa buku ekonomi dasar terdokumentasi bahwa masalah ekonomi itu adalah kelangkaan (scarcity). Dari beberapa referensi ekonomi berikut (Sadono sukirno, Walter Nicholson dan Olivier Blanchard) mengatakan kelangkaan itu disebabkan tidak seimbangnya antara keinginan/hasrat manusia akan kebutuhan barang dan jasa, sementara ketersediaan barang dan jasa itu terbatas. Kepuasan manusia tidak terbatas, seperti analogi pada sebuah iklan coklat dengan slogannya "lagi-lagi dan lagi". Hal ini bermakna bahwa coklat itu enak, tentu saja membuat hasrat penikmatnya bertambah, oleh karena itu mereka akan terangsang untuk menambah coklat tersebut. Itulah kepuasan manusia, tidak akan habis keinginannya sampai dia mati. Bahkan (maaf) ada sebagian orang, sebelum matipun masih sempat memikirkan/mengatur harta kekayaannya. Tujuannya agar ia dapat meninggalkan dunia dengan tenang (bagian dari kepuasan). Sampai saat ini belum ada formula untuk membatasi kepuasan manusia.

Faktor-faktor produksi yang tersedia dikatakan terbatas, karena mereka harus dibayar. Misal sebuah perusahaan butuh gudang, mesin, tenaga kerja, dan bahan baku untuk menciptakan sebuah barang. Kesemua faktor produksi itu di dapat dengan membayar kepada pemiliknya baik dalam bentuk membeli atau sewa. Sementara seorang produsen memiliki prinsip dengan modal serendah-rendah nya harus mendapatkan laba setinggi-tingginya. Jika tidak, maka dia akan merugi dan ini akan berdampak pada keberlangsungan produksi barang tersebut.

Namun berdasarkan pengamatan nakal saya, teori tersebut kurang tepat untuk kondisi kehidupan kita saat ini. Pertama kepuasan manusia tidak lagi berdasarkan untuk memenuhi kebutuhan barang/jasa dalam hidupnya. Melainkan lebih dari itu, yaitu menumpuk kekayaan baik berupa uang, dokumen berharga, maupun investasi lainnya. Tentunya penumpukan harta kekayaan terjadi setelah keinginan akan barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sudah terpenuhi. Kedua faktor produksi itu tidak terbatas  namun tersedia di alam semesta, dan akan mencukupi untuk kebutuhan hidup manusia. Namun sayangnya faktor produsksi ini menjadi bahan rebutan bagi manusia. Misalkan tersedia sepuluh roti untuk 5 orang. Jika hidup ini teratur dan tidak haus atas kepuasan, maka cukuplah roti tersebut untuk lima orang. Namun kenyataannya, diantara mereka ada yang puasa, ada yang baru saja olahraga keras, dan ada yang baru saja makan makanan lain. Alhasil sepuluh roti tersebut tidak terdistribusi dengan rata jumlahnya.

Kesenjangan

Apakah masalah hidup kita masih sebatas kelangkaan, atau sudah masuk dalam ruang lain yaitu kesenjangan?. Tentu saja keduanya memiliki batasan yang berbeda. Proses kesenjangan itu terjadi sejak manusia mengenal konsep kaya dan miskin. Siapa yang membuat konsep tersebut? mengapa dikatakan kaya ketika seseorang memiliki harta yang lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga kebutuhan hidup itu sendiri memiliki tingkatan yang berbeda-beda (misal kebutuhan transportasi: sepeda, motor, mobil dan pesawat). “Simiskin” berangkat ke sekolah dengan sepeda ontel dan “sikaya” pergi ke sekolah dengan mobil.

Siapa yang tidak ingin kaya? yang tidak ingin adalah mereka yang tidak mengenal konsep kaya dan miskin. Sayangnya di negara ini semua sudah diperkenalkan dengan kosep tersebut  sejak dalam kandungan. Tak jarang ibu hamil  mempersiapkan keperluan baby dengan sangat detail. Barang yang dipersiapkan disesuaikan dengan warna, kualitas (nyaman untuk baby), jumlah, dan tidak lupa merek yang bagus. Walaupun secara logika, kita semua tahu bahwa bayi yang masih dalam kandungan atau yang baru saja lahir belum bisa membedakan mana barang yang bagus dan mana yang tidak. Konsep nyaman diperkenalkan oleh orang tua dan keluarganya. Terkadang dalam pikiran, sudah tercipta konsep nyaman adalah jika komposisi bahan tertentu yang digunakan bahkan merek tertentu. Nah bagi para ibu hamil yang tidak memiliki uang cukup untuk memenuhi keperluan tersebut, maka dari jauh hari si ibu merasa risau dan sedih. Begitu juga ketika anak menginjak dunia sekolah, lihat saja daftar barang yang dibutuhkan untuk sekolah. Semua harus lengkap, kualitas bagus, dan tidak lupa merek terkenal. Jika standar itu tidak terpenuhi, maka merasa dirinya tidak termasuk dalam barisan orang kaya. Demikianlah keluarga mengenalkan kita konsep kaya dan miskin. 

Wajar saja jika kita sangat sering mendengar orang tua mengeluh biaya pendidikan mahal. Menjadi sangat menghawatirkan jika kebutuhan akan kepuasan itu merupakan keharusan. Maka terjadilah perebutan modal di dalam masyarakat kita. Sumberdaya yang tersedia dan mencukupi kebutuhan suatu masyarakat menjadi bahan perebutan. Dalam perebutan kekayaan ini ada kelompok masyarakat yang kuat dan ada yang lemah. Bagi mereka yang kuat maka, orang kaya akan menjadi gelarnya. Namun bagi mereka yang lemah orang miskin menjadi gelarnya. Hadirlah kesenjangan diantara mereka, yang sebenarnya "sikaya" telah memiskinkan "simiskin". Namun kenyataan ini dianggap sebuah kompetisi yang lumbrah dalam kehidupan masyarakat kita. Yang berhasil merebut kekayaan ini lebih banyak dianggap suatu kesuksesan hidup, dikarenakan dalam prosesnya terdapat usaha.  

Demi gelar kaya, "sikaya" melakukan apa saja untuk mencapai hasratnya melalui media yang dia miliki yaitu kekuasaan. Terjadilah kasus korupsi dan suap menyuap yang saya namakan "sikaya" memiskinkan "simiskin". Tidak asing bagi kita mendengar pejabat negara ini korupsi dan suap menyuap dengan jumlah milyaran rupiah. Pertanyaan yang mendasar: "untuk apa uang sebanyak itu?" padahal jasanya sebagai pejabat sudah dibayar oleh rakyat, bahkan tunjangannya lebih besar daripada gaji pokok. Apakah itu tidak cukup untuk menghidupi keluarganya? jawabnya hanya untuk agar dia mendapatkan gelar "kaya" padahal saat itu juga terjadi pemiskinan pihak lain.

Katanya pajak untuk rakyat. Kenyataannya banyak juga pihak yang tidak sepakat dengan konsep tersebut. Banyak juga tunggakan pajak para pengusaha tidak dibayarkan. Jikapun ada yang terbayarkan, bagaimanakah alurnya sampai ke masyarakat? apakah lancar-lancar saja? atau kita dapat memaklumi bahwa dana tersebut mesti mampir ke beberapa meja terlebih dahulu untuk membuat kaya pemilik meja hingga hanya sekedar tetesannya yang jatuh kepada masyarakat. Ini juga saya katakan proses pemiskinan, yang dapat dilakukan oleh siapapun terutama mereka yang berada dikursi kekuasaan. Seperti yang sedang menjadi perbincangan saat ini yaitu kasus ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia beserta timnya. Dimana lembaga hukum ini berani digadaikan demi gelar kaya. 

Asnani,
Kost Putri Dinar, 22 Oktober 2013

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Antara Say good bye to Broiler dan Cerita Ayam Kampung

Senangnya ketika anak induk ayam mulai bertelur, 
berharap telurnya bisa banyak
dan semua telur yang dieramkan
menetas semuanya
Just hope :-), when i child...

Saya mengenal istilah ayam Broiler ketika duduk di kelas 1 SMP N 3 Kotabumi pada tahun 1997, karena ada pelajaran muatan lokal "Peternakan Ayam Broiler". Pada pelajaran ini tidak ada praktek langsung bagaimana budi daya ayam Broiler. Namun lebih kepada perkenalan secara teoritis saja, diperkenalkan jenis pakan yang banyak mengandung protein adalah yang terbaik untuk perkembangan ayam. Kemudian diperkenalkan juga bahwa dalam jumlah yang banyak menggunakan mesin penetasan telur, sehingga tidak perlu induk ayam mengerami telurnya untuk menetaskan telur. Output dari pelajaran ini adalah bahwa budidaya ayam Broiler sangat menguntungkan (Profit oriented), karena durasi budi daya yang singkat hanya sekitar 5-6 minggu sampai waktu panen.

Itulah sekilas pelajaran muatan lokal di sekolah yang tidak pernah saya ceritakan kepada orang tua. Namun sebagai anak yang berasal dari kampung, saya paham sekali tentang bagaimana ayam-ayam di kampung berkembang biak. Karena orang tua juga memeliharan beberapa ayam. Dalam keluarga kami memiliki keunikan tentang management ayam. Apakah itu???

Orang tua saya memelihara beberapa induk ayam kampung. Semua anggota keluarga (10 orang) memiliki ayam masing-masing, minimal 1 ekor ayam induk dan anak-anaknya. Kemudian setiap induk ayam diberi nama anak-anaknya. Jadi kami 8 bersaudara memiliki induk ayam masing-masing yang kemudian dipelihara. Buya (panggilan untuk Bapak) dan Emak (panggilan untuk Ibu) menjanjikan akan memotong satu ayam ketika libur kenaikan kelas tiba. Namun memotong ayam itu ada syaratnya yaitu jika kami semua anak-anaknya yang sedang sekolah "semua naik kelas". Diluar celebration itu, ayam yang dipotong adalah milik Buya atau emak. hehehe

Saya dan adik-adik ketika usia anak-anak memahami bagian dari tubuh ayam yang enak dimakan adalah paha dan hati. Jadi jika ingin makan paha ayam dan hatinya, maka ayam miliknyalah yang harus dipotong. Misalnya saya yang ingin makan paha dan hati ayam, maka ayam sayalah yang harus dipotong. Tentunya harus memperhatikan jumlah ayam saya berapa??? kalau hanya induknya saja dan anak-anaknya masih kecil maka tidak boleh dipotong. Jadi aturan ini harus memperhatikan masa produktifitas ayam kami. Biasanya ayam yang sering dipotong adalah ayam pejantan, alasannya karena ayam jantan tidak akan menelur hehehehe (berarti sejak kecil sudah ngerti hukum produktivitas ya :-)). Biasanya kalau ada keperluan uang, ayam-ayam yang sudah besar, dijual ke pasar. Tapi saat itu saya dan adik-adik tidak memperdulikan berapa harga dan untuk keperluan apa ayam dijual karena itu adalah urusan orang tua. 

Ayam-ayam saya dan adik-adik dipelihara orang tua di kebun tempat orang tua usaha (paroan) di Kampung Sriagung, sekarang di kabupaten Sungkai Selatan. Ketika saya liburan sekolah pasti ke kebun tersebut, sementara di Kotabumi saya tinggal bersama saudara. Adik-adik yang masih Sekolah Dasar bersama orang tua di kampung Sriagung. 

Kembali ke ayam lagi....Saya dan adik-adik punya tanggung jawab untuk memberi makan setiap pagi ketika sekitar jam 5.30. Menjadi alasan Buya membangunkan kami, karena ayamnya sudah ribut minta makan. Pakan ayam yang kami berikan sangat sederhana yaitu jagung bulat (hasil menanam sendiri) atau padi (hasil menanam sendiri) atau nasi dan sayuran sisa makan malam. Duduk di atas beranda rumah (karena rumahnya panggung), sambil melempar makanan ayam dari atas dan melihat pemandangan yang indah, dimana ayam-ayam berebut makan hehehehe seru sekali. Namun tak jarang kita harus turun dan mendekati ayam-ayam itu makan, karena ketika memberikan makan, banyak juga ayam orang lain datang menghampiri makanan. Jika kita dekati maka dengan mudah mengawasi ayam-ayam kita makan. Memberi makan ayam hanya pagi hari saja, siangnya ayam mencari makan sendiri di dalam kebun-kebun.

Tanggung jawab lainnya adalah ketika sore hari menggiring ayam-ayam tersebut masuk ke kandang (ayam yang baru saja menetas atau masih kecil bersama induknya). Sementara ayam yang sudah besar bertengger di pohon-pohon samping kanan rumah. Pekerjaan ini dilakukan secara bergilir, karena kadang muncul rasa malas jika dikerjakan sendiri dan terus menerus...so, kalau lewat maghrib ayam belum kembali ke tempatnya biasanya ditegur oleh orang tua. Hahaha

Nah, kalau begitu, saya tahu bahwa rata-rata ayam kampung mulai bertelur berusia sekitar 6 bulan. Masa bertelur sekitar 18 hari dan waktu mengeram sekitar 21-30 hari. Saya dan adik-adik diberi pemahaman bahwa daging ayam yang usianya dibawah 5 bulan sangat tidak enak dimakan. Oleh karena itu kami tidak pernah memakan ayam yang dibawah umur...hehehe. Yang paling enak ketika ayam bertelur, emak saya sering menyisihkan jumlah telur sebelum dieram oleh induk ayam. Emak sering bilang bahwa telur ayam kampung itu sangat baik untuk kesehatan, cara makannya direbus setengah matang...wah mantap pokoknya. Kami anak-anaknya sering diantri/bergilir makan telur ayam rebus setengah matang.

Sangat berbeda perlakuan budidaya ayam kampung dan ayam Broiler. Selain pernah belajar budidaya ayam Broiler juga sering membaca tentang ayam Broiler yang tumbuh berkembang dengan dukungan obat dan vaksin. Namun pada kenyataannya Saya dan keluarga juga mengkonsumsi ayam Broiler. Sampai pada kuranglebih pada bulan Ramadhan 2011 saya memutuskan akan menjalankan bulan puasa tanpa daging ayam, hanya sayuran, ikan dan telur saja. Ketika itu saya sedang study di Jogjakarta, tinggal di Asrama Putri Daerah Lampung milik Pemerintah Provinsi Lampung. Disana ada dapur bersama, sehingga bisa masak sendiri. Saya membuat program konsumsi tanpa ayam selama sebulan penuh, hampir setiap sahur saya hanya makan sayuran yang dimasak dengan direbus saja (tanpa tumis minyak atau santan). Program ini saya lakukan karena belajar makan makanan sehat sesuai bacaan atau tontonan. Program tersebut berhasil tanpa ada keluhan apa-apa, sampai saat ini saya sangat menghindari makan ayam Broiler. Protein ayam Broiler diganti dengan protein tempe, tahu, telur atau ikan dan sesekali daging kambing atau sapi. 

Salam...




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

"Huma (Sawah)" di Kampung Saya


 Hamparan padi di kampung Srimenanti
Asnani.doc

Berikut adalah pengalaman pribadi saya ketika berlibur ke kampung halaman di Way Kanan tepatnya kampung Srimenanti kecamatan Negara Batin. Kampung ini berada di pinggiran sungai Way Kanan yang setiap tahun kedatangan tamu "Banjir". Mungkin itu sebabnya rumah-rumah di kampung ini berbentuk panggung. Setiap tahunnya di kampung ini ada yang namanya musim "ngehuma" yang artinya menanam padi di ladang. Ini tidak sama jika kita membayangkan sebuah sawah yang becek berlumpur dan senantiasa dialiri air irigasi. Padi disini ditanam di lahan-lahan ladang yang berada di dataran tinggi yang mengandalkan air hujan.

Kampung Srimenanti saat sore hari


Pada musim panen kali ini, padi ditanam (tugal) pada bulan Oktober 2012 yang lalu ketika musim hujan mulai datang. Berikut adalah tahapan "ngehuma" di kampung saya:

1. Mempersiapkan Lahan/Ngusi
Ini merupakan tahap awal dalam buat "huma". Lokasi yang digunakan adalah kebun karet atau sawit yang baru ditanam karena batangnya masih kecil atau belum rindang. Lahan ini juga digunakan sebagai "huma" karena sekalin membersihkan gulma/rumput di kebun tersebut. Ada juga petani yang membuka hutan belukar milik pribadi. Biasanya tahap ini dilakukan pada saat musim panas/kemarau. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:
  1. Menyemprot rumput-rumput dengan herbisida.
  2. Membakar rumput-rumput yang telah mati
Orang tua saya membagi pengalamannya ketika petani dikampung belum mengenal herbisida sebagai pembunuh rumput, mereka tidak mampu membuat "huma" yang luas karena tidak mampu merumput dengan koret. Namun sekaran, mereka lebih merasa lebih dipermudah dengan adanya herbisida masuk kampung.

2. Nugal (Tanam)
Nugal adalah proses menanam padi. Nugal ini adalah membuat lubang-lubang kecil dengan menggunakan kayu yang ujungnya diruncingkan, kemudian kayu ini dihentakkan ke tanah sehingga menancap di tanah dan dicabut sehingga membentuk lubang kecil. Jarak tanam ini sekitar 25-30 cm dari lubang satuke lubang yang lainnya. Kita bisa melihat adanya pembagian peran antara laki-laki dan perempuan yaitu laki-laki yang nugal dan perempuan yang membubuhkan benih padi yang banyaknya sekitar 30 buah padi. Jumlah ini jika tumbuh semua maka dianggap banyak. Namun jumlah iu dipersiapkan jika benih tidak tumbuh karena kerusakan benih atau ada benih yang dimakan oleh burung. Kemungkinan padi dimakan burung sangat besar karena lubang tuggal tadi tidak ditutup kembali setelah diisi dengan benih. Misalnya setelah tugal hujan datang maka lubang tersebut tertutup oleh tanah disekitar lubang dnegan sendirinya karena gerakan air juhan yang jatuh di sekitar lubang tugal. Jika di tutup kembali, maka kemungkinan besar benih akan membusuk apalagi setelah ditugal hujan datang menyebabkan lembab yang berlebihan. Ya inilah kebiasaan petani disana.

3. Ngamak/menyulam
Tahap ini dilakukan ketika benih yang ditanam tidak tumbuh merata karena disebabkan disebut di atas tadi. kegiatan ini dilakukan ketika rumpun padi berumur sekitar 2 minggu. Proses menyulam yang dilakukan oleh orang tua saya adalah mengambil 3-4 batang padi pada rumpun yang terlihat tumbuh sempurna. Pada "ngehuma" kali ini ada sebuah kesalahan pada saat menyulam ini yaitu: kebutuhan batang padi lebih banyak dari pada tersedianya rumpun padi yang tumbuh sempurnanya. Hal ini yang disebabkan setelah di tanam, "huma" tidak di tunggui. Alhasil bibit padi bnayak di makan oleh burung. Oleh karena itu orang tua saya mengambil cadangan dari rumpun padi milik saudara yang ternyata berbeda jenis bibitnya.

Bibit padi yang digunakan berdasarkan masa tanamnya, maka disebut "padi 3 bulan, padi 4 bulan dan padi 5 bulan". Maksudnya dari tanam dan panen, lamanya sesuai dengan jenis bibit tersebut. Ketiganya juga berbeda pada fisik batang. Untuk aman dari banjir maka petani memilih bibit padi 5 bulan karena batangnya yang tinggi (sekitar 1,5-2 meter) mampu menyaingi tingginya air banjir. Apalagi ketika bunga padi mulai keluar, sangat ditakutkan ketika banjir datang yang airnya menenggelamkan bunga padi tersebut. Ketakutan itu wajar karena akan menyebabkan buah padi yang hampa/kosong, tentu saja ini sangat merugikan. Dapat dikatakan akan terjadi kegagalan panen.

Lain lagi dengan bibit padi 3 dan 4 bulan, secara fisik batangnya lebih pendek (1 meter). Bibit ini ditanam di tanah yang lebih tinggi. Namun petani juga mengkombinasikan 2 jenis bibit, karena mereka membagi masa panennya. Sebagian lahan di tanam dengan bibit padi 3 bulan dan sebagian di tanam dengan bibit padi 5 bulan. Dengan demikian petani melakukan dua kali masa panen, namun tetap saja strategi ini disesuaikan dengan lahan yang mereka miliki.

4. Nyemprot rumput
Nyemprot rumput ini dilakukan 2 kali selama masa tanam untuk bibit padi 3 dan 4 bulan. Untuk bibit padi 5 bulan membutuhkan 3 kali penyemprotan. Penyemrotan ini dilakukan pada saat menyiapkan lahan, pertengahan masa tanam dan sebulan sebelum panen. Hal ini dilakukan untuk menghindari hama tikus, karena tikus sangat menyukai tanaman yang berumput. Selain itu juga jika tanaman padi bebas dari gulma maka pertumbuhan dan pembuhan berjalan dnegan sempurna. Pada saat masa panen akan mempermudah menggarapnya.


Padi mulai berbuah

5. Ngegetas/panen
Ngegetas dilakukan ketika padi mulai menguning dan tua sempurna. tahap ini dilakukan dengan 2 cara:
a. Menggunakan Ani-ani (Getas)
menggunakan Ani-ani dianggap cara lama bagi petani disini, yaitu mengambil buah padi dengan memotong tangkai buah. Setelah terkumpul banyak, selanjutnya adalah merontokkan bulir padi dengan cara diinjak-injak. Pada injakan-injakan yang pertama kemudian padi dan tangkai dipisahkan. Tangkai-tangkai yang belum bersih tadi kemudian diinjak-injaklagi sampai bersih. Setelah itu di tambi untuk membersihkan padi dari buah yang hampa/kosong. Padi yang sudah bersih di jemur dan siap disimpan di karung. Menggunakan Ani-ani sangat efektif pada bibit padi 5 bulan yang batangnya tumbang/tabah ke tanah. Hal ini disebabkan karena batangnya yang terlalu tinggi dan berat karena buahnya yang tua dan matang.

b. Menggunakan Arit padi
Arit ini digunakan untuk menggarap batang padi 5-10 cm dari tanah untuk dikumpulkan. Setelah diarit, batang-batang padi tersebut dipukulkan/gebuk ke arah kayu. Tangkai buah yang diarahkan ke kayu "penggebuk". Dalam satu genggaman batang padi harus berulang-ulang dipukul sampai padinya rontok. Tentu saja dari gebukan ini banyak sampah batang yang tercecer di sekitar rontokan padi, oleh karena itu harus dibersihkan terlebih dahulu batang dan daun yang jatuh dengan cara diayak. Kemudian padi di tampi untuk membersihkan padi yang hampa/kosong dan patahan tangkai. Setelah itu di jemur dan siap masuk ke karung. Proses ini dianggap lebih cepat dari pada menggunakan Ani-ani, karena 1 rumpun padi bisa sekali waktu digarap, sementara menggunakan Ani-ani mematahkan tangkai yang jumlahnya 15-25 tangkai dalam setiap rumpun.

Padi sudah siap dibawa ke rumah, bagi mereka yang mempunyai kendaraan bermotor sangat mudah membawanya. Namun yang tidak, harus menarik dan mendorong "angkong"/gerobak beroda 2. Selama beberapa hari membantu orang tua di kampung, pemandangan menarik dan mendorong "angkong" banyak terlihat di sore hari. Terlihat pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan dalam hal pekerjaan ini. Laki-laki menarik "angkong" dari depan (layaknya sapi/kerbau) sementara yang perempuan mendorong angkong yang berisi karung-karung padi dari belakang.

Karena orang tua saya tidak punya kendaraan dan Sapi atau kerbau, maka kamipun menarik dan mendorong "angkong". Luar biasa !!! inilah pengalaman pertama saya merasakan lelahnya mendorong "angkong". Keringat mengucur deras di bawah terik panasnya sore, terkadang di bawah guyuran hujan. Sambil mendorong "angkong" di tempat kubangan jalan berlumpur yang rusak, saya berkata "alangkah mudahnya ini kalau saya sudah punya mobil Strada Merah". Ayah saya berkata "Hai anak ku, kita urus angkong ini dulu". Dalam hati saya mengangis, tubuh renta mereka harusnya tidak lagi bekerja sekeras itu. Namun entah kenapa, rasa lelah itu hilang ketika setelah tiba di rumah, mandi, menyiapkan makan malam, dan makan bersama. Kemudian kami duduk bersama di temani lampu "teplok", maklum listrik belum ada di kampung dan diesel juga kami tidak punya. Kami bercanda bersama, sampai suatu saat saya berkata "wajar ya beras mahal, gak mudah ngumpulin biji-biji padi". Merekapun tertawa hahahaha (dalam hati saya berdo'a semoga cita-cita saya cepat terkabul)


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

My Nephew and Niece

Nephew and Niece are new happinees time when i look at them every time. Their smile with me and invite to play together, of course directly i search some thing parcel for them. I don't want they cry and sad. I will give all of things what i have (chocolates, toys, money then time). I want they are happy all the time. What a sad if i see the tears of them fall down when they cry. Please i dislike this situation.


 Hiiiiiii, my name is Arda, i'm 1 year old.

Some time i invite them to come the caffetaria for buy snack or candy or ice crime. i think that make them always happy and want playing together with me. Yes i know that they often cry because i don't know what they want. I don't know the baby language, some off words i don't understand.  This situation just their mother and father who understand their language.



Hiiiii my name is Arjuna, this picture when i was born.

I hope they become a smart baby and healt. Some day they will get their dreams for make a happinees in the world. i hope that






  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gaya Cari Uang Ala Sopir Travel

Pada dasarnya setiap orang memiliki strategi tersendiri dalam mengais rezeki yang sudah Alloh siapkan untuknya. Tidak ada yang membedakan antara hasil dari setiap status pekerjakan setiap orang, yang terpenting adalah halal. Kata orang tua, kalau rejekinya halal maka akan berkah kepada siapa saja yang mengambil manfaat dari uang yang dihasilkan tersebut. Apalagi penghasilan yang digunakan untuk menafkahi istri dan anak-anaknya...harus halal ya :-)

Kali ini, saya akan membagi pengalaman kepada teman-teman sekalian tentang gambaran umum gaya cari uang ala sopir travel. Dalam beberapa kesempatan sebenarnya saya sudah seringkali menggunakan jasa travel untuk bepergian. Travel merupakan jasa transportasi alternative bagi orang-orang yang sering bepergian keluar kota melalui jalur darat. Kata travel diambil dari bahasa Inggris "travel" yang artinya perjalanan. Ini dimaksudkan bahwa jasa travel difungsikan sebagai transportasi pendukung perjalanan. 

Konsep travel berbeda dari rental yaitu pada tujuan perjalanan. Travel digunakan oleh beberapa konsumen dengan beberapa tujuan, sementara rental digunakan oleh satu orang/keluarga untuk satu tujuan perjalanan. Baiklah kita uraikan dari peran sopir terlebih dahulu. Menurut pengalaman saya sopir travel memiliki 3 kelompok cara menjalani profesinya. Yang pertama, Sopir sebagai "tukang sate" analogi ini saya maksudkan karena sopir sebagai pemilik mobil itu sendiri mempromosikan no HPnya kepada pelanggan, kemudian dia menjemput lalu mengantarkan penumpangnya. Kedua, murni sebagai sopir karena menjalankan mobil seseorang maupun perusahaan jasa transportasi. Biasanya tipe yang kedua ini lebih rapi managerialnya, sopir bertugas mengantarkan penumpang langsung ke tempat tujuan masing-masing. Penumpang yang diantar tersebut memang sudah disiapkan oleh penjemput di loket. Ketiga, sopir berperan menjemput penumpang dari rumah masng-masing dan kemudian mampir di loket untuk memberikan tiket kepada penumpang dan kemudian sopir itu pula yang mengantarkan penumpang.

Namanya juga rejeki, jadi tidak setiap hari mobil travel mendapat banyak penumpang/penuh. Misalnya ada 4 orang penumpang yang berhasil dijemput dan memberitahukan kepada loket. Setelah berangkat, sopir biasanya mencari penumpang tambahan di jalan. Pada dasarnya sopir merasa rugi jika mobil yang dibawanya tidak penuh. Jika mobil tersebut merupakan milik perusahaan, maka uang yang terkumpul dibagi menjadi 3 yaitu bensin, jasa penjemput (jika yang menjemput orang lain, berasal dari perusahaan tersebut), honor sopir dan uang jalan (untuk pemilik mobil). 

Pengalaman travel yang saat ini saya gunakan adalah Travel Bandar Lampung-Lampung Barat (Rp.60.000) dalam setiap perjalanan. Biasanya jika perjalanan 3-5 jam, maka berhenti di rumah makan untuk makan dan istirahat. Jumlah penumpang penuh adalah 7 orang, jika semua berangkat dari Karang-Lambar makan sopir mendapatkan uang Rp. 420.000 dalam satu kali perjalanan. Uang tersebut digunakan untuk Rp.35.000 untuk yang menjemput (jika menggunakan jasa teman sopir yang menjemput), sopir Rp.100.000, bensin Rp.150.000 dan sisanya adalah uang jalan (pemilik mobil). Oleh karena itu sopir travel memiliki jaringan sesama sopir travel yang lain. Jika ada yang menelpon seorang sopir minta diantar pada jam tertentu, dan kebetulan sang sopir tidak bisa, maka akan dialihkan kepada sopir lain yang akan berangkat sesuai dengan permintaan penumpang tersebut. Jaringan inilah yang membantu sopir-sopir tersebut untuk mendapatkan penumpang.

Pada saat istirahat di rumah makan, biasanya sopir travel telah memiliki langganan tersendiri. Sopir berhenti makan dan istirahat, mau tidak mau para penumpang juga makan dan istirahat ditempat itu juga. Ada penumpang yang amakn ada juga yang tidak. Pada saat berhenti, penumpang juga bisa ke kamar mandi buang air kecil/besar, cuci muka dan sholat. Sopir travel juga mendapat potongan harga makan bahkan ada juga yang gratis oleh pemilik rumah makan, karena telah mendatangkan rejeki juga untuk rumah makan tersebut. Dari hasil obrolan saya dengan salah seorang sopir travel yang berinisial A, berkata bahwa biasanya dia hanya membayar Rp.5000 setiap makan dengan lauk apa saja. Sementara standar penumpang sekitar Rp.20.000-35.000/porsi. Lumayan juga si sopir dapat potongan, sehingga uang jalan sopir bersih.

Begitulah cara kerja para sopir travel pada umumnya, bekerja keras dengan resiko yang berat  demi menafkahi anak istri dan keluarga. Bisnis travel sangat prospek kini dan nanti, mengingat tingkat mobilitas para pekerja saat ini sangat tinggi dan membutuhkan keamanan dan kenyamanan. Namun demikian menjadilah sopir dambaan, yang tidak ugal-ugalan membawa mobil. Istilahnya alon-alon asal kelakon supaya penumpangnya (seperti saya) merasa nyaman. Jujur ya saya takut sekali dengan kecepatan tinggi... :-)















  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS