Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Configure your calendar archive widget - Edit archive widget - Flat List - Newest first - Choose any Month/Year Format
Tampilkan postingan dengan label enjoy my life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label enjoy my life. Tampilkan semua postingan

Semesta Membacakan Ukiran Mimpiku

Wahai tanah air ku,
negara tercinta ku
kan kujaga keindahan wajahmu
diantara cantiknya wajah semesta dunia.
(Asnani)

 
Ilustrasi diambil dari http://desmarisme.blogdetik.com/category/ga-penting/


Sama sekali tidak ingat kapankah saya mengukir mimpi untuk melanjutkan study Doktor?, namun yang jelas saat itu ketika saya sedang dalam keadaan terpuruk diantara lembaran-lembaran draft Tesis yang sangat membosankan. Lagu-lagu Adelle dan MLTR yang tak bosan-bosan menemani pagi sebelum mandi, atau malam menjelang tidur bersama panjangnya transkrip penelitian. 

Apakah berbeda hasilnya ketika mimpi itu di ukir disaat sedang duduk santai dipantai sambil menikmati segarnya air buah kelapa muda dan dibandingkan ketika pusing, lelah dan bosan dengan sebuah pekerjaan wajib yang masih terbengkalai??? jawabnya tidak tahu.

Saya hanya berfikir semua tergantung kepada semesta mendukung atau tidak untuk membacakan mimpi yang telah kita ukir. Saya mengukirkan mimpi untuk lanjut studi Doktor, dalam keadaan saya belum menyelesaikan kewajiban untuk lulus Master. Sepertinya ini sangat paradok sekali...tidak masuk akal, ataukah ini hanya nafsu saja???.

Pada 24 Oktober akhirnya saya diproklamasikan kepada seluruh yang hadir di gedung Graha Shaba Permana Universitas terutama kepada kedua orang tua dan saudara dari Lampung bahwa saya lulus dan mendapatkan ijasah dengan gelar Master of Art (MA). Saya sudah membuktikan kepada keluarga bahwa perjalanan saya untuk menuntut ilmu adalah benar. Setidaknya spirit untuk memberikan contoh kepada Tujuh orang adik saya bahwa pendidikan itu mudah akhirnya terlaksana. 

Dua tahun selama di Jogja, namun enam bulan tidak terhitung sebagai aktivitas akademik karena saya cuti dan merantau ke Kampung Inggris Pare di Kediri, dan disanalah saya menelurkan penelitian Tesis. Disana, dimana dulu seorang Anthropolog Amerika Clifford Geertz pernah melakukan penelitian yang tertuang di beberapa karya diantaranya Mojokuto dan Santri Priyayi dan Abangan. Disana saya menemukan generasi informan kunci Geerzt yaitu KH. Ahmad Yazid seorang priyayi yang menguasai beberapa ilmu (matematika, biologi, fisika, dan sosial politik) berkat kelembutan hatinya dalam belajar dan menguasai Sembilan Bahasa Asing.

Saya sangat terinspirasi semangat belajar dari seorang mbah Yazid, begitulah saat ini namanya terkenal dan menjadi cerita kepada setiap pendatang kampung Inggris yang mencaritahu soal sejarah kampung tersebut. Ketika itu saya bertekat bahwa proses belajar ini tidak bisa berhenti, HARUS terus dan terus sampai waktu kematian itu tiba. Mungkin inilah yang sekarang dikenal sebagai konsep long life education.

Setelah selesai kuliah Master, saya diminta orang tua untuk kembali ke kampung halaman di Lampung. Mendapatkan pekerjaan dekat dengan orang tua adalah hal yang paling nyaman dan diinginkan oleh anak dan orang tua. Seminggu di Lampung, seorang dosen di Universitas Lampung meminta agar saya (belajar mengajar) di jurusan Sosiologi tentunya pada Mata Kuliah yang diasuh olehnya. Suatu proses yang sangat saya nikmati, berhadapan dengan mahasiswa, diskusi, dan membaca bahan-bahan ajar. Senang bisa mengabdi di Almamater tercinta.

Di luar itu, saya juga bergabung dengan WATALA (Keluarga Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup). Saya kembali belajar pada kakak senior di WATALA dalam program empowering di kecamatan Belalau Kabupaten Lampung Barat dengan isu hutan adat. Kemudian kegiatan capasity building program API Perubahan dengan isu adaptasi perubahan iklim untuk ketahanan. Sangat membahagiakan ketika belajar itu sesuai dengan passion kita. Berdiskusi dengan komunitas petani, belajar kelompok dalam training, bahkan makan bersama tim dipinggir jalan.

Semesta mulai membacakan ukiran mimpi yang lama saya ukir dalam hati, yaitu panggilan untuk melanjutkan studi. Setiap kali saya online internet selalu saya mencari peluang apa yang bisa saya tangkap agar bisa melanjutkan studi???. ternyata Sang Pencipta semesta memberikan apa yang saya butuhkan. Melalui takdirNya, saya masuk dalam lingkaran sistem yang disebut Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPPDN). Setelah mengikuti semua alur dan ketentuan yang ada, akhirnya saya ditetapkan sebagai penerima BPPDN 2013 di program doktor bersama 114 oarang lainnya diseluruh Indonesia.

Selama tiga tahun saya akan berada di lingkungan belajar Institut Pertanian Bogor terhitung sejak akhir Agustus 2013, dengan menggunakan uang negara (uang rakyat Indonesia). Secara iseng saya menghitung uang yang akan saya habiskan selama 3 tahun ke depan sekitar 190 juta rupiah. Uang tersebut akan saya gunakan untuk biaya pendidikan (Registrasi awal, SPP, administrasi disertasi), biaya hidup, domisili, buku, penelitian lapangan, dan biaya perjalanan. Kemudian uang yang akan saya habiskan itu, HARUS saya pertanggungjawabkan kepada negara.

Begitu besar nominal uang rakyat yang diamanahkan kepada saya. Sebagai konsekuensi logis dari amanah itu, saya terikat kontrak bersama Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan (Dikti) bahwa saya harus mengabdi sekurang-kurangnya n+1 (Tiga Tahun masa studi ditambah 1 tahun) di salah satu universitas yang telah saya pilih diantara 35 universitas yang ditawarkan oleh Dikti. Saya memilih Institu Teknologi Sumatera (Itera) yang sekarang sedang di bangun di Kota Baru Lampung Selatan. 

Mengapa saya memilih Itera? 

Pertama karena program studi yang saya ambil (Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan) sesuai dengan salah satu program studi yang ada di Itera. Kedua, saya ingin ambil bagian sebagai putra daerah yang ingin membangun daerahnya, karena kampus ini baru tentu akan memiliki dinamika yang berbeda ketika bergabung dengan universitas yang sudah lebih lama berdiri. Ketiga, dari sisi pragmatis berdekatan dengan orang tua dan adik-adik tercinta, inilah harapan mereka bahwa saya sebagai anak tertua dalam keluarga lebih baik jika berada dekat dengan mereka.

Inilah yang saya maksud bahwa semesta mulai membacakan ukiran mimpi lama. Tidak ada salahnya jika saya tuliskan kembali motto hidup saya "HIDUP ADALAH KEYAKINAN".

Kost Putri Dinar, Dramaga Bogor, 24 September 2013

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bukan Tamu Tengah Malam

Hujan sangat deras sekali ditambah suara petir saling bersaut-sautan. Di ruang berkotak dengan ukuran 3x3 meter ini, saya sendiri. Berusaha untuk tidur nyenyak tanpa menghiraukan suana malam ini yang menakutkan, karena cuaca yang seperti ini jarang sekali terjadi di Lampung. Walaupun sulit, akhirnya tertidur juga.

Mungkin sudah tertidur selama dua jam lamanya, tiba-tiba saya terbangun. Segera mencari HP yang biasanya saya letakkan di atas meja dekat dengan tempat tidur. Saya lihat jam menunjukkan pukul 01.30. Saya terbangun bukan karena suara HP atau karena yang mengetuk pintu, namun suara lonceng di gerbang kost berbunyi. 

Pemilik kost sengaja memasang lonceng yang sering dipakai untuk kalung kerbau atau sapi, ukurannya tidak terlalu besar namun cukup terdengar sampai ke kamar-kamar jika ia bergoyang. Tengah malam dalam keadaan hujan deras, siapakah yang keluar/masuk gerbang tersebut??? dalam hati saya bertanya. Namun karena sedari tadi saya merasa takut, ditambah lagi kejadian itu menambah rasa takut saya. Saya hanya berfikir bahwa ada teman salah seorang penghuni kost yang baru saja pulang. Tak lama kemudian saya berusaha tidur kembali.

Keesokan harinya saya berharap ada informasi dari penghuni kost, siapakah yang membuka gerbang tengah malam sehingga lonceng berbunyi. Namun harapan saya pupus karena tak seorangpun yang bercerita dan sayapun tidak bertanya. Ya sudahlah, alhamdulillah tidak terjadi apa-apa (saya bergumam dalam hati). Kemudian saya melanjutkan aktivitas seperti hari sebelumnya, berangkat ke kampus dan kembali lagi ke kostan.

Malam ini, kembali hujan deras seperti malam kemarin (hujan deras sekali). Kembali nyenyaknya tidur saya terusik dan terbangun tengah malam (sekitar jam 01.00) karena suara lonceng gerbang berbunyi. Siapakah yang membuka gerbang kost??? (bertanya dalam hati). Lagi-lagi saya tidak sanggup untuk membuka pintu kamar dan melihatnya secara langsung. Kali ini saya justru berfikir negatif (jangan-jangan Tukang Maling) yang berusaha masuk ke dalam area kostan. Dengan perasaan takut, kembali saya abaikan kejadian itu dan melanjutkan tidur.

Hari ini adalah hari minggu, semua penghuni kost pagi ini belum ada yang keluar dari gerbang dengan berbagai aktivitas. Ada beberapa yang berkumpul di ruang tamu sambil menonton TV, dengan acara santai (program entertainment: gosip). Sama halnya dengan saya, yang juga tertarik untuk ikut berkumpul, karena jika tidak hari Minggu, maka jarang-jarang kami berkumpul. Sambil nonton, saya kemudian bertanya kepada mereka prihal ketakutan saya dua malam ini. Siapakah yang membuka gerbang dua malam ini sekitar jam 01.00?? (Serentak saja mereka kaget dan penasaran).

Seorang teman (Adis) berkata: "iya, aku denger ada yang buka gerbang tengah malam". Dalam hati saya (berati bukan saya sendiri yang merasa takut dalam dua malam ini). Namun tiba-tiba ada teman lain (Welly) berkata: "Ohhhh, itu mah kucing....dia sering masuk atau keluar kost dengan lompat lewat lubang gerbang, sehingga loncengnya berbunyi".

setelah Welly menjelaskan logika itu, serentak rasa takut dan penasaran saya hilang. Ternyata hanya seekor kucing...Huuuuuuuuuh

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kota hujan tak sedingin ketika hujan




Bogor terkenal dengan sebutan kota hujan. Entah sejak kapan gelar tersebut disandang oleh kota ini. Bisa jadi dikarenakan intensitas hutannya lebih tinggi dari kota lain yang ada di Indonesia. Saya merupakan salah satu orang yang percaya begitu saja bahwa Bogor adalah kota hujan. Sehingga yang ada dalam pikiran saya adalah Bogor memiliki udara yang sejuk bahkan sangat dingin. Hal ini disebabkan sejak kecil, ilmu pengetahuan yang saya dapati bahwa jika hujan maka cuaca akan dingin. Oleh karena itu ketika akan berangkat ke kota Bogor, saya telah menyiapkan beberapa jaket yang saya pikir sangat berguna ketika tiba disana. 

Asumsi-asumsi saya tersebut di atas ternyata tidak berlaku untuk kota Bogor. Fakta yang terjadi adalah kota ini sangat panas, dan saya selalu gerah berkeringat setiap siang hari bahkan malam hari, khususnya di daerah Dramaga.  Ternyata saya terjebak dalam kadaluarsa perspektif  selama ini sehingga saya salah mengambil keputusan membawa jaket-jaket namun tidak pernah dipakai. huffff

Apakah kota hujan hanya sebagai simbol saja saat ini? Yang tidak bermakna sebenarnya?...yah inilah keadaan real bahwa inilah yang dinamakan perubahan iklim. Kota hujan mungkin masih berlaku bagi kota Bogor pada 10 tahun yang lalu...namun TIDAK lagi untuk sekarang. Tindakan yang pantas untuk sebuah adaptasi adalah membawa payung ketika berjalan kaki di siang hari agar tidak kepanasan, dan membuka jendela/pintu ketika di kostan. Mencari angin cepoi-cepoi :-)

Anehnya ketika hujanpun, cuaca tidak terasa dingin bahkan tetap saja gerah dan suara petir yang menakutkan seperti bumi mau meledak saja.  saya merasa dingin hanya ketika berada di ruang kelas belajar saja, dan ini sangat tidak nyaman. Maklumlah tidak cocok dengan dinginnya AC atau kipas angin. 

Semoga keadaan ini cepat berlalu dan kesejukan segera datang ;-)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS